Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Ribuan hektar lahan bekas
penambangan bauksit di Kota
Tanjungpinang dan Kabupaten
Bintan, Kepulauan Riau masih
terbiar menjadi lahan tidur.

Padahal, dengan sentuhan tangan-
tangan kreatif, lahan bekas
tambang bauksit tersebut bisa
disulap menjadi lahan produktif
penghasil bahan pangan.

“Kita sudah buktikan, dengan
menggunakan rekayasa coco peat
(serbuk sabut kelapa - red) dan
bahan organik lainnya, lahan bekas
tambang bauksit yang selama ini
jadi “momok” bagi petani, bisa
digarap menjadi lahan pertanian
penghasil bahan pangan,” ungkap
Ketua Bidang Penelitian dan
Pengembangan Asosiasi Industri
Sabut Kelapa Indonesia (AISKI),
Ady Indra Pawennari dalam
keterangan persnya, Senin
(2/12/2013).

Menurut Ady, ujicoba penanaman
jagung di lahan bekas penambangan bauksit itu
terlaksana atas prakarsa Walikota
Tanjungpinang, Lis Darmansyah
dan dukungan perusahaan
pertambangan bauksit di
Tanjungpinang PT Lobindo Nusa
Persada.

“Awalnya, saya usulkan revegetasi
lahan pasca tambang bauksit di
Tanjungpinang dengan tanaman
kayu sengon. Namun, oleh Walikota Tanjungpinang disarankan
ujicobanya dengan tanaman penghasil bahan pangan, seperti
jagung atau singkong. Alhamdulillah, saya pilih jagung
dan hasilnya luar biasa,” papar
Ady.

Ady menjelaskan, teknologi
rekayasa coco peat untuk
pemulihan lahan kritis dan lahan
pasca tambang dipopulerkan oleh
Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT). Ujicoba
revegetasi lahan pasca tambang
batubara di Kalimantan Timur dan
lahan pasca tambang niekel di
Sulawesi Tenggara dengan
tanaman kayu sengon berjalan
sukses dan menjadi model di
beberapa daerah lainnya di
Indonesia.

“Insya Allah, dalam waktu dekat,
beberapa perekayasa dari BPPT
akan turun ke Tanjungpinang
memonitor pertumbuhan jagung
yang ditanam di lahan pasca
tambang bauksit ini. Kemungkinan
keberhasilan ujicoba tanaman
jagung ini akan jadi model
penanganan lahan pasca tambang
secara nasional,” tambah Ady.
Keberhasilan ujicoba penanaman
jagung di lahan bekas
penambangan bauksit oleh AISKI
di Sungai Tocah, Kecamatan Bukit
Bestari, Kota Tanjungpinang,
Kepulauan Riau, menuai banyak
pujian setelah dipublikasikan
melalui media jejaring sosial.

“Salut, saya akan berkunjung ke
Tanjungpinang untuk melihat
langsung pertumbuhannya,”
komentar Anggota Komisi VIII DPR
RI, Idris Laena.

Sebagaimana diketahui, coco peat
memiliki sifat mudah menyerap
dan menyimpan air, serta dapat
membantu tanaman beradaptasi di lahan kritis. Coco peat juga
memiliki pori-pori yang
memudahkan pertukaran udara dan masuknya sinar matahari.
Kandungan trichoderma molds-nya, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah dan menjaga tanah tetap gembur dan subur.

Sumber : TribunNewsDotCom

Berita

AISKI Sulap Lahan Tambang Bauksit Jadi Penghasil Jagung

Posted by Admin  | 

Ribuan hektar lahan bekas
penambangan bauksit di Kota
Tanjungpinang dan Kabupaten
Bintan, Kepulauan Riau masih
terbiar menjadi lahan tidur.

Padahal, dengan sentuhan tangan-
tangan kreatif, lahan bekas
tambang bauksit tersebut bisa
disulap menjadi lahan produktif
penghasil bahan pangan.

“Kita sudah buktikan, dengan
menggunakan rekayasa coco peat
(serbuk sabut kelapa - red) dan
bahan organik lainnya, lahan bekas
tambang bauksit yang selama ini
jadi “momok” bagi petani, bisa
digarap menjadi lahan pertanian
penghasil bahan pangan,” ungkap
Ketua Bidang Penelitian dan
Pengembangan Asosiasi Industri
Sabut Kelapa Indonesia (AISKI),
Ady Indra Pawennari dalam
keterangan persnya, Senin
(2/12/2013).

Menurut Ady, ujicoba penanaman
jagung di lahan bekas penambangan bauksit itu
terlaksana atas prakarsa Walikota
Tanjungpinang, Lis Darmansyah
dan dukungan perusahaan
pertambangan bauksit di
Tanjungpinang PT Lobindo Nusa
Persada.

“Awalnya, saya usulkan revegetasi
lahan pasca tambang bauksit di
Tanjungpinang dengan tanaman
kayu sengon. Namun, oleh Walikota Tanjungpinang disarankan
ujicobanya dengan tanaman penghasil bahan pangan, seperti
jagung atau singkong. Alhamdulillah, saya pilih jagung
dan hasilnya luar biasa,” papar
Ady.

Ady menjelaskan, teknologi
rekayasa coco peat untuk
pemulihan lahan kritis dan lahan
pasca tambang dipopulerkan oleh
Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT). Ujicoba
revegetasi lahan pasca tambang
batubara di Kalimantan Timur dan
lahan pasca tambang niekel di
Sulawesi Tenggara dengan
tanaman kayu sengon berjalan
sukses dan menjadi model di
beberapa daerah lainnya di
Indonesia.

“Insya Allah, dalam waktu dekat,
beberapa perekayasa dari BPPT
akan turun ke Tanjungpinang
memonitor pertumbuhan jagung
yang ditanam di lahan pasca
tambang bauksit ini. Kemungkinan
keberhasilan ujicoba tanaman
jagung ini akan jadi model
penanganan lahan pasca tambang
secara nasional,” tambah Ady.
Keberhasilan ujicoba penanaman
jagung di lahan bekas
penambangan bauksit oleh AISKI
di Sungai Tocah, Kecamatan Bukit
Bestari, Kota Tanjungpinang,
Kepulauan Riau, menuai banyak
pujian setelah dipublikasikan
melalui media jejaring sosial.

“Salut, saya akan berkunjung ke
Tanjungpinang untuk melihat
langsung pertumbuhannya,”
komentar Anggota Komisi VIII DPR
RI, Idris Laena.

Sebagaimana diketahui, coco peat
memiliki sifat mudah menyerap
dan menyimpan air, serta dapat
membantu tanaman beradaptasi di lahan kritis. Coco peat juga
memiliki pori-pori yang
memudahkan pertukaran udara dan masuknya sinar matahari.
Kandungan trichoderma molds-nya, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah dan menjaga tanah tetap gembur dan subur.

Sumber : TribunNewsDotCom

05.21 Share:
Kasi Program Direktorat Industri Kecil Menengah (IKM) Wilayah I Kementerian Perindustrian RI, Kris Sasono N Wibowo (kiri), didampingi Anggota DPR/MPR RI daerah pemilihan Riau, H. M. Idris Laena (tengah), Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari (kanan) memeriksa kelengkapan mesin pengolahan sabut kelapa bantuan Kementerian Perindustrian RI di Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau,

Di saat harga buah kelapa di Indonesia anjlok, sabut dan tempurung kelapa diharapkan jadi solusi untuk meningkatkan nilai tambahnya. Dengan demikian, petani kelapa tidak lagi bergantung pada penjualan buah kelapanya, karena produk turunannya sudah bisa diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Hal ini diungkapkan Anggota DPR/MPR RI asal Riau, Ir. H. M. Idris Laena usai menyaksikan penyerahan bantuan 2 set mesin pengolahan sabut kelapa kepada masyarakat di Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan dan Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Rabu

Penyerahan bantuan mesin pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir, Riau tersebut dilakukan oleh Kasi Program Direktorat Industri Kecil Menengah (IKM) Wilayah I Kementerian Perindustrian RI, Kris Sasono N Wibowo didampingi Ketua Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Riau, Ady Indra Pawennari.

“Sebagai wakil rakyat yang berasal dari daerah pemilihan Riau, saya sangat prihatin dengan kondisi harga buah kelapa saat ini. Karena itu, saya terus mendorong Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan UKM agar memberi perhatian terhadap pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) yang berbasis produk turunan buah kelapa,” jelas Idris dalam keterangan tertulis AISKI.

Anggota Komisi VI DPR RI ini juga menceritakan keberhasilan sejumlah negara penghasil buah kelapa, seperti India dan Srinlanka dalam mengolah sabut kelapanya menjadi produk unggulan yang digemari pasar internasional. Bahkan, China sebagai negara yang bukan penghasil buah kelapa mampu menguasai pasar produk sabut kelapa dunia.

“Sukses dan keberhasilan negara – negara lain dalam mengembangkan industri pengolahan sabut kelapa ini, patut kita tiru. Sehingga petani kelapa kita bisa tertolong karena adanya nilai tambah dari produk turunan buah kelapanya. Saya berharap, ke depan Riau punya industri strategis di bidang sabut kelapa,” kata Idris.
Sementara itu, Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari dalam keterangan persnya kepada Wartawan, menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Perindustrian dan anggota DPR/MPR RI asal Riau, Idris Laena yang telah memberi perhatian terhadap pengembangan industri sabut kelapa di Riau.

"Kita sampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Kementerian Perindustrian dan Komisi VI DPR RI, khususnya Bapak Idris Laena yang ikut memberi perhatian terhadap nasib industri sabut kelapa di Riau," katanya.
Ady berharap, Kementerian Perindustrian tidak berhenti pada pemberian bantuan mesin pengolahan raw material, tapi bagaimana mengembangkannya hingga ke produk jadi yang dapat meningkatkan nilai tambahnya.

"Kita sangat jauh ketinggalan dari negara India dan Srilanka yang sudah mengolah sabut kelapanya hingga produk jadi, seperti spring bed, matras, jok mobil, karpet, tali, keset kaki dan lainnya. Karena itu, kita minta pemerintah memberi perhatian terhadap peningkatan nilai tambahnya," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Provinsi Riau dikenal sebagai produsen buah kelapa terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 4 miliar butir lebih per tahun. Namun, produk turunannya, seperti sabut kelapa belum banyak dimanfaatkan sebagai komoditas bernilai ekonomi.
News

Pemerintah Didorong Kembangkan Industri Turunan Buah Kelapa

Posted by Admin  | 

Kasi Program Direktorat Industri Kecil Menengah (IKM) Wilayah I Kementerian Perindustrian RI, Kris Sasono N Wibowo (kiri), didampingi Anggota DPR/MPR RI daerah pemilihan Riau, H. M. Idris Laena (tengah), Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari (kanan) memeriksa kelengkapan mesin pengolahan sabut kelapa bantuan Kementerian Perindustrian RI di Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau,

Di saat harga buah kelapa di Indonesia anjlok, sabut dan tempurung kelapa diharapkan jadi solusi untuk meningkatkan nilai tambahnya. Dengan demikian, petani kelapa tidak lagi bergantung pada penjualan buah kelapanya, karena produk turunannya sudah bisa diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Hal ini diungkapkan Anggota DPR/MPR RI asal Riau, Ir. H. M. Idris Laena usai menyaksikan penyerahan bantuan 2 set mesin pengolahan sabut kelapa kepada masyarakat di Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan dan Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Rabu

Penyerahan bantuan mesin pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir, Riau tersebut dilakukan oleh Kasi Program Direktorat Industri Kecil Menengah (IKM) Wilayah I Kementerian Perindustrian RI, Kris Sasono N Wibowo didampingi Ketua Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Riau, Ady Indra Pawennari.

“Sebagai wakil rakyat yang berasal dari daerah pemilihan Riau, saya sangat prihatin dengan kondisi harga buah kelapa saat ini. Karena itu, saya terus mendorong Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan UKM agar memberi perhatian terhadap pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) yang berbasis produk turunan buah kelapa,” jelas Idris dalam keterangan tertulis AISKI.

Anggota Komisi VI DPR RI ini juga menceritakan keberhasilan sejumlah negara penghasil buah kelapa, seperti India dan Srinlanka dalam mengolah sabut kelapanya menjadi produk unggulan yang digemari pasar internasional. Bahkan, China sebagai negara yang bukan penghasil buah kelapa mampu menguasai pasar produk sabut kelapa dunia.

“Sukses dan keberhasilan negara – negara lain dalam mengembangkan industri pengolahan sabut kelapa ini, patut kita tiru. Sehingga petani kelapa kita bisa tertolong karena adanya nilai tambah dari produk turunan buah kelapanya. Saya berharap, ke depan Riau punya industri strategis di bidang sabut kelapa,” kata Idris.
Sementara itu, Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari dalam keterangan persnya kepada Wartawan, menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Perindustrian dan anggota DPR/MPR RI asal Riau, Idris Laena yang telah memberi perhatian terhadap pengembangan industri sabut kelapa di Riau.

"Kita sampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Kementerian Perindustrian dan Komisi VI DPR RI, khususnya Bapak Idris Laena yang ikut memberi perhatian terhadap nasib industri sabut kelapa di Riau," katanya.
Ady berharap, Kementerian Perindustrian tidak berhenti pada pemberian bantuan mesin pengolahan raw material, tapi bagaimana mengembangkannya hingga ke produk jadi yang dapat meningkatkan nilai tambahnya.

"Kita sangat jauh ketinggalan dari negara India dan Srilanka yang sudah mengolah sabut kelapanya hingga produk jadi, seperti spring bed, matras, jok mobil, karpet, tali, keset kaki dan lainnya. Karena itu, kita minta pemerintah memberi perhatian terhadap peningkatan nilai tambahnya," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Provinsi Riau dikenal sebagai produsen buah kelapa terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 4 miliar butir lebih per tahun. Namun, produk turunannya, seperti sabut kelapa belum banyak dimanfaatkan sebagai komoditas bernilai ekonomi.

23.38 Share:

Ady Indra Pawennari, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Kharisma Bintan, menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib petani tambak udang tradisional di wilayah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Sebaliknya, menurut Ady, pemerintah malah memberi kelonggaran masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia.
“Ini aneh, tapi nyata. Kita berada di daerah yang memiliki wilayah laut 96 persen, tapi tiap hari makan udang dan ikan bandeng dari Malaysia. Padahal, kita punya tambak udang dan ikan bandeng yang jauh lebih potensial dari Malaysia,” ungkap Ady dalam siaran pers di Tanjungpinang, Selasa (2/10/2013).
Menurut Ady, pelarangan impor udang oleh pemerintah, sudah dituangkan dalam Peraturan Bersama Menteri Perdagangan Republik Indonesia dan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 52/M-DAG/PER/12/2010 dan Nomor: PB.02/MEN/2010 tentang Larangan Impor Udang Spesies Tertentu ke Wilayah Republik Indonesia.
Kalau sudah ada larangan seperti ini, tutur Ady, seharusnya pemerintah memberi perhatian serius terhadap kelangsungan hidup petani tambak udang di dalam negeri.
Contoh, paparnya, petani tambak udang di wilayah perbatasan Malaysia seperti di Teluk Bintan, Kepulauan Riau, dibiarkan berjalan sendiri tanpa sentuhan teknologi budidaya.
"Akibatnya, produktivitas jalan di tempat dan memberi peluang masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia,” katanya.
Ady yang merupakan pioneer pembangunan tambak udang tradisional di wilayah Kepulauan Riau menambahkan, untuk meningkatkan produktivitas hasil budi daya perikanan di wilayah Kepulauan Riau, pemerintah diharapkan segera merevitalisasi tambak udang dan ikan bandeng yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Kepulauan Riau.
“Sebenarnya, program revitalisasi ini sudah digalakkan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pulau Jawa, khususnya di sepanjang pantai utara (Pantura) dengan nilai anggaran mencapai Rp 400 miliar lebih," ungkap Ady.
Tapi, menurutnya, hingga kini Kepulauan Riau belum kebagian. Sebagai wilayah perbatasan, kata Ady, harusnya Kepulauan Riau juga diberi perhatian.
Sejak 2003, Kelompok Tani dan Nelayan Kharisma Bintan mulai membangun tambak udang di Kampung Sei Tiram, Kecamatan Teluk Bintan, seluas 100 hektare lebih. Awalnya, produktivitas tambak udang yang dikelola secara tradisional, berkembang cukup bagus.
Namun, seiring berkurangnya perhatian pemerintah, khususnya dalam pengadaan pupuk bersubsidi, pembenahan sarana dan prasarana pendukung, dan masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia, produktivitas petani tambak semakin menurun.
Ady berharap, program revitalisasi bisa mengembalikan kejayaan petani tambak udang di Kepulauan Riau, dan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.
"Jangan lagi anak cucu kita diwarisi kebiasaan makan udang dan ikan bandeng impor. Sudah saatnya kita benahi dan bangkitkan potensi budi daya perikanan yang kita miliki,” papar Ady
Berita

Petambak di Resahkan Dengan Masuknya Udang dan Ikan Malaysia

Posted by Admin  | 


Ady Indra Pawennari, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Kharisma Bintan, menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib petani tambak udang tradisional di wilayah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Sebaliknya, menurut Ady, pemerintah malah memberi kelonggaran masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia.
“Ini aneh, tapi nyata. Kita berada di daerah yang memiliki wilayah laut 96 persen, tapi tiap hari makan udang dan ikan bandeng dari Malaysia. Padahal, kita punya tambak udang dan ikan bandeng yang jauh lebih potensial dari Malaysia,” ungkap Ady dalam siaran pers di Tanjungpinang, Selasa (2/10/2013).
Menurut Ady, pelarangan impor udang oleh pemerintah, sudah dituangkan dalam Peraturan Bersama Menteri Perdagangan Republik Indonesia dan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 52/M-DAG/PER/12/2010 dan Nomor: PB.02/MEN/2010 tentang Larangan Impor Udang Spesies Tertentu ke Wilayah Republik Indonesia.
Kalau sudah ada larangan seperti ini, tutur Ady, seharusnya pemerintah memberi perhatian serius terhadap kelangsungan hidup petani tambak udang di dalam negeri.
Contoh, paparnya, petani tambak udang di wilayah perbatasan Malaysia seperti di Teluk Bintan, Kepulauan Riau, dibiarkan berjalan sendiri tanpa sentuhan teknologi budidaya.
"Akibatnya, produktivitas jalan di tempat dan memberi peluang masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia,” katanya.
Ady yang merupakan pioneer pembangunan tambak udang tradisional di wilayah Kepulauan Riau menambahkan, untuk meningkatkan produktivitas hasil budi daya perikanan di wilayah Kepulauan Riau, pemerintah diharapkan segera merevitalisasi tambak udang dan ikan bandeng yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Kepulauan Riau.
“Sebenarnya, program revitalisasi ini sudah digalakkan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pulau Jawa, khususnya di sepanjang pantai utara (Pantura) dengan nilai anggaran mencapai Rp 400 miliar lebih," ungkap Ady.
Tapi, menurutnya, hingga kini Kepulauan Riau belum kebagian. Sebagai wilayah perbatasan, kata Ady, harusnya Kepulauan Riau juga diberi perhatian.
Sejak 2003, Kelompok Tani dan Nelayan Kharisma Bintan mulai membangun tambak udang di Kampung Sei Tiram, Kecamatan Teluk Bintan, seluas 100 hektare lebih. Awalnya, produktivitas tambak udang yang dikelola secara tradisional, berkembang cukup bagus.
Namun, seiring berkurangnya perhatian pemerintah, khususnya dalam pengadaan pupuk bersubsidi, pembenahan sarana dan prasarana pendukung, dan masuknya udang dan ikan bandeng dari Malaysia, produktivitas petani tambak semakin menurun.
Ady berharap, program revitalisasi bisa mengembalikan kejayaan petani tambak udang di Kepulauan Riau, dan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.
"Jangan lagi anak cucu kita diwarisi kebiasaan makan udang dan ikan bandeng impor. Sudah saatnya kita benahi dan bangkitkan potensi budi daya perikanan yang kita miliki,” papar Ady

23.35 Share:

Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Alhamdulillah, telah menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah mewujudkan swasembada pangan tahun 2014.

Pernyataan ini sejalan dengan keberhasilan ujicoba dan simulasi penanaman singkong di lahan marginal yang dilakukan AISKI dengan menggunakan media tanam serbuk sabut kelapa atau coco peat.

Problem lahan marginal dan miskin hara, sudah bisa diatasi dengan treatment coco peat. Singkong yang biasanya hanya bisa dipanen sebanyak 100 ton per hektare, bisa ditingkatkan hingga 800 ton per hektare dengan menggunakan coco peat,” ungkap Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari di Jakarta, Sabtu (19/1/2013).

Menurut Ady, manfaat coco peat yang dapat meningkatkan produktivitas lahan yang marginal dan miskin hara adalah jawaban yang tepat untuk segera menghentikan impor bahan pangan, khususnya singkong.
Buah Singkong AISKI

Dengan bibit singkong Formula Satu (F-1) yang di-treatment dengan coco peat, AISKI yakin swasembada singkong akan tercapai.

“Tahun lalu, kita dikejutkan dengan impor singkong dari Thailand, Vietnam, dan China. Insya Allah, tahun depan kita sudah siap ekspor singkong. Jangan ragu-ragu lagi, dengan coco peat kita bisa wujudkan swasembada singkong,” kata Ady meyakinkan.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, potensi lahan untuk pengembangan tanaman singkong, masih sangat besar yaitu lahan tidur seluas 5,84 juta hektare dan lahan sawah tadah hujan 1,18 juta hektare.

Pemerintah menargetkan produksi singkong pada 2014 mencapai 27,6 juta ton dengan luas lahan tanaman 1,5 juta hektare.

“Dalam hitungan ujicoba dan simulasi AISKI, baik di lahan subur maupun lahan marginal dan miskin hara, produksi singkong dengan menggunakan treatment coco peat dapat ditingkatkan menjadi 500-800 ton per hektare. Jadi, untuk mencapai target 27,6 juta ton itu, AISKI hanya butuh lahan seluas 55 ribu hektare,” jelas Ady.

Ady mengakui masih kesulitan memasyarakatkan penggunaan coco peat kepada petani dan perusahaan-perusahaan pertanian dan perkebunan di Indonesia. Berbeda dengan perusahaan pertanian dan perkebunan di negara-negara maju, seperti China, Korea, Jepang, Jerman, Italia, Kanada, dan Spanyol.

“Sampai saat ini, 95 persen penyerapan coco peat Indonesia, masih pasar ekspor. Padahal, manfaatnya luar biasa untuk meningkatkan sektor pertanian dan perkebunan dalam negeri. Andai saja penggunaan coco peat ini sudah memasyarakat di kalangan petani, nilai impor bahan pangan Indonesia yang mencapai angka Rp 90 triliun per tahun dapat dikurangi,” tambahnya.

Ady menceritakan hasil ujicoba dan simulasi yang dilakukan koleganya, Tiara di Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan coco peat sebagai media tanam, ia sukses memanen singkong siap jual sebanyak 800 ton di lahan seluas 1 hektare.

Bibit singkong yang dibudidayakan Tiara di Samarinda bukanlah bibit singkong biasa, tapi bibit hasil inkubasi DNA (deoxyribosenucleid acid) singkong dari Taiwan dan singkong asli Kalimantan Timur.

“Hanya masa panen, daun dan warna singkong yang beda. Kualitas dan rasanya sama dengan singkong lokal, empuk dan gurih saat digoreng,” katanya.
Singkong
Singkong
Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen.

Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar dan panjang.




Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).

Sumber : tribunnews.com
News

KAMI Siap Dukung Pemerintah Wujudkan Swasembada Pangan tahun 2014

Posted by Admin  | 


Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Alhamdulillah, telah menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah mewujudkan swasembada pangan tahun 2014.

Pernyataan ini sejalan dengan keberhasilan ujicoba dan simulasi penanaman singkong di lahan marginal yang dilakukan AISKI dengan menggunakan media tanam serbuk sabut kelapa atau coco peat.

Problem lahan marginal dan miskin hara, sudah bisa diatasi dengan treatment coco peat. Singkong yang biasanya hanya bisa dipanen sebanyak 100 ton per hektare, bisa ditingkatkan hingga 800 ton per hektare dengan menggunakan coco peat,” ungkap Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari di Jakarta, Sabtu (19/1/2013).

Menurut Ady, manfaat coco peat yang dapat meningkatkan produktivitas lahan yang marginal dan miskin hara adalah jawaban yang tepat untuk segera menghentikan impor bahan pangan, khususnya singkong.
Buah Singkong AISKI

Dengan bibit singkong Formula Satu (F-1) yang di-treatment dengan coco peat, AISKI yakin swasembada singkong akan tercapai.

“Tahun lalu, kita dikejutkan dengan impor singkong dari Thailand, Vietnam, dan China. Insya Allah, tahun depan kita sudah siap ekspor singkong. Jangan ragu-ragu lagi, dengan coco peat kita bisa wujudkan swasembada singkong,” kata Ady meyakinkan.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, potensi lahan untuk pengembangan tanaman singkong, masih sangat besar yaitu lahan tidur seluas 5,84 juta hektare dan lahan sawah tadah hujan 1,18 juta hektare.

Pemerintah menargetkan produksi singkong pada 2014 mencapai 27,6 juta ton dengan luas lahan tanaman 1,5 juta hektare.

“Dalam hitungan ujicoba dan simulasi AISKI, baik di lahan subur maupun lahan marginal dan miskin hara, produksi singkong dengan menggunakan treatment coco peat dapat ditingkatkan menjadi 500-800 ton per hektare. Jadi, untuk mencapai target 27,6 juta ton itu, AISKI hanya butuh lahan seluas 55 ribu hektare,” jelas Ady.

Ady mengakui masih kesulitan memasyarakatkan penggunaan coco peat kepada petani dan perusahaan-perusahaan pertanian dan perkebunan di Indonesia. Berbeda dengan perusahaan pertanian dan perkebunan di negara-negara maju, seperti China, Korea, Jepang, Jerman, Italia, Kanada, dan Spanyol.

“Sampai saat ini, 95 persen penyerapan coco peat Indonesia, masih pasar ekspor. Padahal, manfaatnya luar biasa untuk meningkatkan sektor pertanian dan perkebunan dalam negeri. Andai saja penggunaan coco peat ini sudah memasyarakat di kalangan petani, nilai impor bahan pangan Indonesia yang mencapai angka Rp 90 triliun per tahun dapat dikurangi,” tambahnya.

Ady menceritakan hasil ujicoba dan simulasi yang dilakukan koleganya, Tiara di Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan coco peat sebagai media tanam, ia sukses memanen singkong siap jual sebanyak 800 ton di lahan seluas 1 hektare.

Bibit singkong yang dibudidayakan Tiara di Samarinda bukanlah bibit singkong biasa, tapi bibit hasil inkubasi DNA (deoxyribosenucleid acid) singkong dari Taiwan dan singkong asli Kalimantan Timur.

“Hanya masa panen, daun dan warna singkong yang beda. Kualitas dan rasanya sama dengan singkong lokal, empuk dan gurih saat digoreng,” katanya.
Singkong
Singkong
Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen.

Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar dan panjang.




Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).

Sumber : tribunnews.com

23.32 Share:
Get updates in your email box
Complete the form below, and we'll send you the best coupons.

Deliver via FeedBurner

Labels

Text Widget

About Us

Proudly Powered by Blogger.
back to top